Cantiknya Matahari Terbit di Gunung Panderman

Suatu kenikmatan menyeruak bila bisa menikmati sunrise dari ketinggian.  Meski berpeluh, capek nanjak, saat melihat proses alami matahari terbit yang amazing, semua rasa lelah menguap.

Belum lama ini saya mencoba membuktikan. Dan memang benar melihat sunrise dari ketinggian, mencipta sensasi yang luar biasa. Saya merasa sangat kecil diantara bentangan alam ciptaanMU.

Menikmati Sunrise di Puncak Panderman

Gunung Panderman tak asing lagi bagi pengunjung yang kerap berwisata ke Batu,  Jawa Timur. Gunung dengan tinggi 2000 mdpl itu menghiasi Kota  Batu dengan anggun dan menjadi jujugan pendaki pemula.

Sebagai gunung yang ramah, Panderman juga memiliki sisi yang luar biasa. Di puncaknya yang bernama Basundara,  kita bisa melihat proses matahari terbit dengan view yang sangat indah. Warna-warna cantik yang timbul sebagai lukisan alam sungguh mempesona.  Gradasi warna sangat sempurna dan membuat saya speechless.  Subhannalah…

Karena keindahannya, Gunung Panderman mampu menggaet hati seorang Van Der Man.  Orang berdarah Belanda ini konon pada jaman dulu yang pertama kali mendaki gunung itu. Dia mengagumi pesona gunung  tersebut saat melihat sunrise dipuncaknya. Akhirnya karena lidah Jawa, warga sekitar memanggilnya Panderman . Dan nama Panderman lah yang melekat hingga kini.

Ada Dua Jalur Pendakian Panderman

Untuk menuju Gunung Panderman kita bisa  melalui desa Toyomarto, Pesanggrahan Batu. Kita akan melewati sebuah gerbang yang bertuliskan Wisata Panderman.

Ada dua jalur untuk menuju puncaknya yakni jalur umum dan jalur Curah Banteng.  Untuk jalur umum disarankan bagi pendaki pemula karena tanjakabnya aman. Sedangkan jalur Curah Banteng melalui tanjakan yang curam. Bahkan tanjakannya nyaris 90 derajat.

Para pendaki akan melalui 2 pos setelah sebelumnya melapor di pos loket dengan membayar 10rb. Namun sebelumnya harus berjalan dari parkiran bawah sejauh 3 km. Jalan yang ditempuh menuju pos loket lumayan tinggi. Kalau ingin menghemat tenaga kita bisa naik ojeg berbayar 10rb.  Bila kita mendaki malam hari akan terlihat kerlap kerlip Kota Batu yang indah di malam Hari.

Normalnya bila mendaki melalui jalur umum membutuhkan waktu antara 3-4 jam. Setelah berjalan selama 1 jam akan tiba di pos 1 yakni Latar Ombo di ketinggian 1300 mdpl. Di pos ini banyak juga yang mendirikan tenda bagi pendaki yang tak ingin muncak. Dari pos 1 Latar Ombo rute yang ditempuh makin menanjak. Jalanan saat musim kemaraupun  berdebu. Jadi jangan lupa bawa masker ya?

Melalui hutan pinus selama 1,5 jam akhirnya sampai di area yang berbatu. Bila menemui bebatuan besar dengan tanah datar berarti sudah berada di pos 2 yakni pos Watu Gede (Batu  Besar). Dari area bebatuan menuju puncak Panderman tidak lama lagi. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit namun trekingnya menanjak tajam.

Di Puncak Basundara Panderman Banyak Kera

Seperti umumnya puncak gunung lainnya,  puncak Panderman pun ditandai dengan titik puncak. Yakni berupa tiang bendera dan tulisan nama puncak. Saat saya tiba pukul 02.30 WIB (naik pukul 23.00 WIB), area puncak sudah dipenuhi tenda -tenda. Area ngecam di puncak relatif lebih luas tanah datarnya dari 2 pos sebelumnya.

Tak menunggu waktu lama sejak tiba,  saya menyiapkan diri untuk berburu sunrise. Caranya? Tidak melepas lelah dengan tidur. Tentu saja kuatir terlambat bangun dan melewatkan sunrise begitu saja.

Sekitar pukul 05.00 langit gelap mulai berpendar dengan warna lembayung,  biru, ungu dan entah warna apalagi. Yang jelas sangat indah campuran warna ciptaan Illahi. Rasa lelahpun seakan menguap bersama detik-detik sunrise itu. Puas jeprat jepret view indah dengan gugusan Gunung Putri Tidur, saya usai sarapan ala-ala apa adanya, segera turun untuk melihat view saat hari terang.

Oya saat sebelum saya turun, di pepohonan yang ada disekitar puncak terlihat segerombolan kera. Kera-kera liar itu tak mengganggu pendaki. Tapi bila diberi makanan kera-kera itu akan turun untuk mengambil jatah dari pendaki.

Klop yaa bila ada manusia dan alam serta penghuninya seperti kera bisa saling berbagi. Rasanya semakin indah hidup ini. Alam menyuguhkan keindahannya dan kita menjaga kelestarian alamnya. Jadi ada simbiosis mutualism yang saling menguntungkan. Semoga!

 

Sumber : Kompasiana

Written by Lavensia Tour

Leave a reply